Jumat

MANISNYA IMAN



Artinya: Diriwayatkan dari Anas bin Malik ra, Nabi saw bersabda:
"Tiga orang, siapa yang termasuk di dalamnya, maka ia menemukan manisnya iman. (1) Allah dan Rasul-Nya lebih ia cintai daripada yang lainnya, (2) ia tidak mencintai seseorang melainkan karena Allah, dan (3) ia membenci kembali pada kekufuran, sebagaimana ia membenci bila dilemparkan  ke   api   neraka."   (HR.   al-Bukhari:15   dan  Muslim:60)
Dalam hadits di atas, Rasulullah saw menggunakan istilah 'halawah' (manis, lezat) untuk terminologi iman. Hal ini, menurut Imam Ibnu Hajar al-Asqalani, menunjukkan bahwa seorang mukmin sangat menikmati akan keimanannya. Ibarat orang yang sakit, baginyamadu terasapahit, sedangkan bagi orang yang sehat, madu itu dirasakannya manis sesuai dengan aslinya. Setiap kali kesehatan seseorang berkurang, maka kekuatanpengecapnya pun akan berkurang. Begitu pula, orang beriman, ia akan merasakan manisnya iman jika bersih hatinya dan sehat jiwanya. Adapun jika hati dan jiwanya kotor, maka iman yang seharusnya manis dirasakannya pahit.
Sedangkan Syekh Abu Muhammad bin Abi Hamzah berpendapat bahwa penggunaan 'halawah' tersebut mengandung arti bahwa Allah swt menyerupakan iman dengan sebuahpohon, seperti dalam firman-Nya,
Artinya: "Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baik seperti pohon yang baik, akarnya teguh (menghunjam ke pitala Bumi) dan cabangnya (menjulang) ke langit." (QS. Ibrahim, 14:24)
Menurutnya, 'kalimaf dalam ayat di atas adalah ikhlas, pohonnya adalah pokok keimanan, cabang-cabangnya adalah melaksanakan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya, daun-daunnya adalah sesuatu yang selalu dilakukan seorang mukmin yaitu kebaikan, dan buahnya adalah ketaatan. Puncaknyaberujungpadabuah yang matang. Dari buah inilah, rasamanis itu muncul.
Rasulullah saw mensinyalir tiga orang yang dapat merasakan manisnya iman.
1. orang yang mencintai Allah dan Rasul-Nya melebihi segalanya. Cinta di sini bukan berarti cinta syahwat (hawa al-nafs) yang semu melainkan cinta yang hakiki (al-hubb al-aqli). Cinta yang hakiki selalu menempatkan akal dan hati sebagai barometer pertimbangan. Bagaikan seorang pasien, ia akan memandang perlu untuk meminum obat atau jamu, meskipun itu pahit. Ia berkeyakinan bahwa dengan obat atau jamu tersebut, penyakitnya akan segera sembuh. Begitu pula seorang yang beriman, ia akan tunduk dan patuh pada perintah Allah dan Rasul-Nya, meskipun hal itu begitu berat dirasakannya. Ia percaya bahwa segala sesuatu yang disyariatkan Allah dan Rasul-Nya mengandung kebaikan dan membawa dirinya pada kebahagiaan di dunia dan di akherat.
Seorang mukmin yang merasakan manisnya iman akan secara totalitas menyerahkan semua kehidupannya untuk Allah dan Rasul-Nya. Ia menyadari bahwa Allah adalah Dzat Pemberi Nikmat dan Rasulullah adalah manusia pilihan yang ditugaskan untuk meyampaikan syariat-Nya. Karenanya, ia tidak mencintai kecuali apa yang dicintai oleh Allah dan Rasul-Nya.
2.         Ia tidak mencintai seseorang kecuali karena Allah, dan tidak membencinya kecuali karena Allah. Ia yakin betul bahwa semua janji Allah dan ancaman- Nya adalah benar dan pasti adanya. Dengan demikian, orientasi hidupnya adalah untuk mencapai kebahagiaan akherat, yaitu surga.
3.         Ia  tidak  mau  kembali  pada  kekufuran,   sebab  hal   itu   akan mengakibatkannya terlempar ke api neraka. Kandungan hadits di atas dikuatkan oleh firman Allah swt, Artinya: Katakanlah: "Jikabapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, isteri-isteri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai daripada Allah dan Rasul-Nya dan (dari) berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya."    (QS.    al-Taubah,9:24)
Di atas sudah dijelaskan bahwa seorang yang beriman akan menemukan manisnya iman jika ia mencintai Allah dan Rasul-Nya melebihi segalanya. Cinta kepada Allah sendiri, dari segi hukumnya, dapat dikelompokkan menjadi dua; (1) wajib dan (2) sunnah. Cinta yang hukumnya wajib adalah cinta yang mendorong untuk melaksanakan perintah-perintah Allah dan menjauhi larangan-laranganNya, meskipun hawa nafsu menentangnya. Karenanya, seorang yang beriman dan totalitas dengan keimanannya, ia tidak mungkin terjerumus pada kemungkaran. Maka ketika ia terlena dan lupa sehingga tergelincir pada kubangan dosa, secara otomatis seorang yang beriman akan menyesali perbuatannya. Sebab ketika itu, sesungguhnya keimanannya sedang tiada. Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah, Nabi saw bersabda:
Artinya: "Seorang tidak berzina ketika ia berzina jika ia dalam keadaan mukmin, dan seorang tidak meminum khamar ketika ia minum jika ia dalam keadaan mukmin..." (HR. al-Bukhari: 87 dan Muslim:2295)
Adapun cinta kepada Allah yang hukumnya sunnah adalah senantiasa mengerjakan amalan-amalan sunnah dan menjauhi segala hal yang syubhat. Secara bahasa, syubhat berarti samar atau tidak jelas. Maka, seorang mukmin seyogyanya menghindari segala aktivitas yang tidak jelas hukumnya menurut agama. Begitu pula mencintai Rasulullah, ada yang wajib dan ada pula yang sunnah. Hanya saja, mencintai Rasulullah memberi pengertian bahwa seorang mukmin haras mengikuti jejak perilaku dan budi pekerti beliau sebagai manusia pilihan yang memiliki suri tauladan yang baik bagi umatnya. Pada hakekatnya, mencintai Allah dan Rasul-Nya merupakan satu kesatuan yang tak dapat dipisahkan. Seorang yang mencintai Allah dituntut juga untuk mencintai Rasul-Nya, sebagaimana diisyaratkan dalam al-Qur'an: Artinya: "Katakanlah: "Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu." Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (QS. Ali Imran,3:31)
Keimanan yang tertanam di dalam dada seorang mukmin adalah suatu karunia Allah yang sangat berharga. Keimananlah yang menghantarkan seorang manusia menuju keridhaan-Nya. Karenanya, manusia yang beriman tentu  akan  menjaga  keimanannya  tersebut   serta  berusaha  untuk meningkatkan kualitasnya. la tidak akan rela jika keimanan tersebut lepas darinya. Karena hilangnya keimanan berarti kekufuran. Kekufuran inilah yang akan menjerumuskan seorang manusia ke jurang api neraka. Seorang yang telah merasakan manisnya iman akan rnembenci kekufuran, kendati kekufuran itu berasal dari orang tua atau karib kerabatnya. Sebab orang yang telah menj adikan kekufuran sebagai kawan akan j auh dari rahmat Allah swt. Sebagai orang yang beriman, selayaknya menjadikan nilai-nilai keimanan sebagai basis utama dalam pergaulan.

0 komentar:

Posting Komentar